Saturday, February 23, 2008

"Senyum Indah Cahya Purnama"

Bagiku, inilah masa terindah dalam hidup. Bisa jumpa sekaligus kenal dengan sosok yang hanya pantas kuimpikan. Andai bukan karena senyum yang dia hadiahkan, mungkin aku tetap meredam diri untuk mengunci riak yang berkecamuk dalam hati.Tak salah memang. Karena bagiku cinta itu hanya pantas dipendam, bukan diungkapkan. Jadi, senyum yang dia hadiahkan, kubalas sekenanya. Kuusahakan agar dia tidak curiga.

Sudah terlalu lama aku memilih memendam simpatiku. Namun, jarak yang terbentang telah memaksa aku menuntut ucap untuk berkata. Tapi, lagi-lagi aku tak punya keberanian.

Hingga kuputuskan hanya mengekspresikan segalanya dalam bentuk kata. Walau tersembunyi tapi ia dalam bermakna. Jadilah aku pujangga yang terkoyak dalam gubuk diari.

Catatan diari hari ini kumulai dengan mengukir nama indahnya. Kemudian membubuhinya dengan puisi dan prosa-prosa gubahan sastrawan. Tak sulit bagiku. Karena puisi dan prosa telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam keseharianku. Aku seorang penulis.

Indah Cahya Purnama..! Berjalan gemulai dari arah mata angin berhembus. Menebar aroma korkase yang tumbuh di kaki bukit. Dan melambaikan pesona alamanda yang bermahkotakan permata.

Oh Indah...! Betullah ia telah menjadi cahaya purnama yang selalu bersinar dalam ruang apa saja. Indah Cahya Purnama, titisan Dyah Phitaloka abad 21.

Kututup lembaran diariku. Kukunci rapat dengan gembok mungil. Lalu kubungkus dengan plastik berwarna gelap. Kuselipkan di sebuah kantong rahasia yang melengkapi tasku. Dan terakhir memasang gembok lapis dua agar tetap aman. Privasi yang sangat kujaga.

Ruang kuliah hening dalam hitungan sesaat. Pak Anwar, dosenku kini berdiri gagah di depan kelas. Memulai kuliah dengan salam, salawat, dan bumbu bahasa agama. Sebuah ritual yang selalu dilakonkannya sebagai penganut Islam yang taat.

”Rekan sekalian. Seperti yang telah disepakati pertemuan lalu, hari ini kita akan diskusi. Dan rekan-rekan semua tentunya telah mempersiapkan makalah masing-masing.”.

Aku terperangah. ”Diskusi? Makalah? Ah...! Kenapa tak pernah kupikirkan” batinku. Dan....
”Yang mendapat kesempatan pertama untuk mempresentasikan makalah saya berikan kepada Andi”.

Suara garang Pak Anwar membahana memenuhi langit-langit ruang kuliah. Aku semakin terperangah dan tersudut. Aku salah tingkah karena tidak punya makalah. Kepalaku berputar, mencoba menangkap tampang iba teman sekelas.

Tatapanku mengarah ke kanan. Tepat di samping kursiku. Kudapati sosok Indah Cahya Purnama melemparkan senyum terindahnya. Jelas senyum itu untukku. Kumiringkan kepalaku seraya berbisik kepadanya.

”Cahya...! Bisa pinjam makalahmu. Makalahku tidak selesai. Tolong ya!”.
”Andi mana?”

Suara Pak Anwar meninggi. Kembali memecah kesunyian kelas yang dia ciptakan. Sementara aku semakin kedinginan dalam getar yang entah asalnya dari mana.
”Cahya...! Pinjam ya!”

Pelasku. Kali ini dengan muka merah disertai keringat tipis yang menghiasi pelipisku. Aku betul kelabakan. Tak tahu harus berbuat apalagi. Namun kutemukan senyum Indah Cahya Purnama merekah lagi.

Senyumnya kali ini lebih indah dari senyum sebelumnya. Dengan sedikit merapatkan kursinya didekatku. Disodorkannya makalahnya seraya berdesis lirih.
”Nih...Lain kali jangan diulangi lagi yah!”

Kusambut makalahnya. Aku beranjak dari tempat duduk. Berusaha tenang melangkah tampil di depan kelas. Kubuka lembaran pertama makalah Cahya. Kubaca judul besarnya. ”Analisis Wacana Media”. Wow...semalam aku baru saja merampungkan bahasan Eriyanto mengenai topik tersebut.

Kutarik napas dalam-dalam. Kemudian melayangkan tatapan ke seluruh ruangan. Terakhir, tatapanku berhenti pada sosok Indah Cahya Purnama. Dia mengedipkan mata, tertunduk, lalu tertawa kecil. Sebuah bidikan ekspresi yang sarat tanya.

Kumulai persentasiku dengan ucapan terima kasih. Lalu sedikit demi sedikit masuk dalam topik kajian. Kupaparkan tentang perdebatan panjang antara mazhab positivistik dan mazhab kritis.

Mulai dari hadirnya Aguste Comte sebagai tokoh yang mengindoktrinasikan aliran positivistik dalam kajian-kajian sosial. Hingga paparan tentang teori hegemoni Antonio Gramsci dan teori ideologi Althuser sebagai pendukung mazhab kritis. Kupaparkan lebih lanjut dan mengaitkannya dengan analisis wacana media.

Tak lupa kububuhi dengan istilah-istilah popular agar terdengar intelek. Kuperhatikan tingkah teman-temanku. Mayoritas menggoyangkan kepalanya. Tak jelas apakah paham atau tidak. Aku hanya menangkap simbol antusias dari gerak tubuh yang ditampakkan.

”Sejatinya, realita yang dihadapi sekarang adalah sebuah kontruksi global yang telah dikendalikan amat rapi. Kontruksi global telah menciptakan sistem rekayasa sosial yang saat ini ditapaki.

Dunia telah dipenuhi pertarungan wacana yang amat ekstrim. Yang eksis tentunya yang bisa mendominasi pewacanaan dengan menggunakan media sebagai alat.”

Paparan itu menjadi kesimpulan sekaligus penutup persentasiku. Riuh tepuk-tangan memadati kelas. Lalu kembali hening kala Pak Anwar berkomentar lantang.

”Nah rekan mahasiswa. Itu tadi pemaparan dari Andi. Apa ada yang mau bertanya atau mengungkapkan pendapat. Silakan!”

Kelas kembali hening. Tiap diri kudapati menunduk. Tertanam di lantai dan sesekali bertatapan satu sama lain. Tentu saja dalam jeda yang lama.
”Kalau tidak ada....” Pak Anwar menyambung kata-katanya namun terpotong oleh suara halus yang melengking.

”Saya Pak!” Indah Cahya Purnama mengacungkan tangan.
”Ya...Silakan Indah!”
Terdiam sejenak. Mengarahkan kedua matanya ke Pak Anwar. Lalu ke arahku. Cahya memulai bahasannya.

”Saya hanya ingin menambahkan sekaligus menanggapi Pak. Tentang positivisme yang diungkapkan oleh rekan Andi, sebenarnya berawal dari kajian di Universitas Chicago Amerika. Sementara mazhab kritis banyak diilhami oleh kajian-kajian dari sekolah Frankfurt di Jerman pada 1940-an.

Namun sayangnya penyaji lupa memasukkan nama Stuart Hall dalam bahasannya. Padahal beliau merupakan tokoh yang gencar menyuarakan tentang critical discourse Analysis. Itu tambahan saya Pak”.

Ah…! Aku berdecak kagum pada pribadi Indah Cahya Purnama. Bukan hanya rupanya yang cantik tapi otaknya juga cemerlang. Sekelas dengan ilmuwan papan atas seperti Aristoteles ataupun Plato. Keanggunannya kurasa semakin bertambah.

Dalam lembar diari ini. Sengaja kupahat lagi nama Indah Cahya Purnama. Kuabadikan gelimang kelembutan dan kecerdasan yang dimilikinnya.

Cahya!
Begitu aku menyebutnya
Wanita yang mewarisi keindahan purnama bulat sempurna.
Cahya!
Sosok yang kini hadir sebagai pengusik tidur pulasku dalam gelap malam yang hitam.
Cahya!
Bukan hanya di diari kuukir artefakmu tapi juga di hatiku.
Sungguh!...

Created By : S. Putra Sulaiman



“NEWS”

* Pingin dapat duit tiap kali blog/site anda dikunjungi/dibaca orang?!, Silahkan Download di sini
Untuk Info lebih lanjut silahkan Lihat disini

* Pengen dapet duit cuman modal nge-klik (GET PAID EVERY 30 SECOND)?!, Silahkan Download disini
Untuk info lebih lanjut silahkan Lihat di sini

No comments: